Senin, 06 Januari 2014

Widasari Menuju Kawasan Perkotaan

Setelah dialihkannya jalan negara pantura antara Widasari-Pilangsari (Kecamatan Jatibarang) sepanjang 3 km tahun 2003, Widasari banyak dilirik investor. Tahun 2008 setelah rampungnya jalan lintas antara Lohbener-Widasari sejauh 11 km, lalu lintas dari arah Cirebon-Jakarta dan sebaliknya menjadi ramai. Para investor dan pengusaha kemudian membangun sarana pertokoan di pinggiran jalan baru tersebut.

Di samping kiri kanan jalan negara arah Widasari–Bangkaloa kini sudah dipadati sejumlah bangunan pertokoan dan gudang. Begitu pula jalur Widasari-Lohbener sudah bermunculan rumah makan, Stasiun Pengisian Bahan Energi (SPBE), gudang, dealer, sarana perumahan, dll. Jalan sejauh 11 km sudah tidak sepi lagi, tak ubahnya ramai seperti ketika pantura melewati Celeng-Widasari-Jatibarang, yang kini sudah tidak dilalui arus lalu-lintas kendaraan besar.

Dampak melonjaknya pembangunan, terjadilah pergeseran budaya bagi masyarakat. Dahulu masyarakat Widasari dikenal sebagai petani dan bergelut di bidang usaha beras, sekarang banyak yang bekerja di pabrik, toko, dealer, dll. Sejumlah areal tanah pesawahan tersita untuk dijadikan lahan jalan pantura dan disulap menjadi sarana bisnis. Bagaimana untuk mengantispasi persoalan ini?

"Widasari berubah menjadi kawasan perkotaan, harus kita banggakan. Perubahan budaya harus diimbangi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Hilangnya sebagian lahan sawah produktif harus diimbangi dengan ditingkatkannya hasil produksi pertanian," kata H. Dodi Tisna Abdulah, S.H., M.Si., Camat Widasari.

Maraknya para investor menanamkan modal di Kecamatan Widasari, di satu sisi dampaknya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Di sisi lain bisa menambah pemasukan asli daerah (PAD) untuk pembangunan Kabupaten Indramayu. Dan bisa memicu semangat di kemudian hari bagi masyarakat untuk menjadi investor di daerahnya sendiri.

Masyarakat Widasari yang berada di sepuluh desa dengan jumlah penduduk 35.680 jiwa, dan hampir 70 persen bermatapencaharian bertani ini dari sekarang sudah menyiapkan diri menghadapi era teknologi canggih. Sarat utama tentu anak-anak sebagai generasi penerus harus memiliki tingkat kecerdasan, kemauan keras, dan keterampilan handal. Tentunya harus mengenyam pendidikan setidaknya tingkat SLTA dan bisa menempuh ke perguaran tinggi.

"Mengubah sikap seperti ini tentu banyak tantangan. Makanya dari sekarang bulatkanlah tekad menciptakan generasi pelanjut harus lebih baik tingkat intelektualitasnya di masa depan. Jika tidak maka kita akan menjadi penonton di daerahnya sendiri," kata H. Dodi yang belakangan ini tengah giat memberikan motivasi terhadap masyarakat di desa-desa.

Camat tidak menghendaki dengan berubahnya Widasari menuju kawasan perkotaan lantas tidak harus masyarakat melupakan jati dirinya sebagai petani. Teknologi maju, pertanian pun harus lebih maju lagi. Lahan pesawahan menyempit karena tergerus sarana pembangunan, para petani harus mampu menggali potensi agar hasil produksi pertanian lebih meningkat lagi.

SDM petani terus ditingkatkan. Para kelompok tani jangan merasa bosan belajar dan terus menggali potensi menghadapi kajian terapan teknologi pertanian, sekolah lapangan terpadu, kursus tani, dll. Sangat diutamakan jiwa kebersamaan antar petani. Pemerintah selama ini terus berupaya memberikan berbagai fasilitas untuk melayani kebutuhan petani.

Salah satu pelayanan pemerintah, di Kecamatan Widasari kini sedang dibangun dua embung air, di Desa Widasari dan di Desa Leuwigede. Jika tahun depan kedua embung yang luasnya sekitar enam hektar rampung dibangun, harapannya para petani bisa bercocok tanam selama tiga kali dalam setahun. Artinya bertanam padi, dan bertanam palawija.

"Dengan cara itulah, meski Widasari berubah menjadi kawasan perkotaan, industri pertanian tidak terkalahkan. Ujung-ujungnya masyarakat Widasari sejahtera," kata H. Dodi. (Undang/Deni/HumasIndramayu)